Selamat Datang Di Website Resmi, SUARA INDEPENDEN JURNALIS INDONESIA

Sekian Lama Diam, Kini Saatnya Ulama Aceh Turun Gunung, Musyawarah Sikap Aceh Terhadap NKRI.


SijiAceh.or.id | Kota Langsa (Aceh) 8/8/2026 - Sebuah wilayah di ujung pulau sumatra yang tak pernah bisa ditaklukan oleh bangsa manapun, kini rela bersatu dalam bingkai Negara Kesatuan Repoblik indonesia (NKRI).

Aceh, adalah sebuah Bangsa, dia bukanlah suku, karna Aceh pernah menjadi sebuah Bangsa yang besar jauh-jauh hari sebelum indonesia ada.

Bergabungnya Aceh kedalam NKRI adalah hadiah terbesar dari bangsa Aceh selain Dua buah pesawat sumbangan dari masyarakat Aceh untuk NKRI.

Aceh hanya meminta Otonomi untuk mengatur daeranya sendiri dan menjalankan sari'at Islam secara kaffah di bumi Serambi Mekah tersebut.

Permintaan tersebut hanyalah permintaan kecil bila dibandingkan pengorbanan dan sumbangsih Aceh untuk NKRI.

Berulangkali Pemerintah Indonesia mengingkari janjinya. Berbagai macam ketidak adilan diperlakukan untuk Aceh dari mulai orde lama, orde baru dan orde-orde lainya.

Walau demikian Ulama Aceh tetap diam. Tapi kali ini ulama Aceh akan menyatukan suara terhadap kezaliman yang selama ini di pertontonkan di bumi serambi mekah ini.

Ulama Aceh akan mengadakan Zikir Akbar, do'a bersama (Tolak Bala) dan bermusyawarah terkait sikap Aceh terhadah pemerintah Indonesia kedepan.

Acara tersebut akan di adakan di mesjid Raya Baitul Rahman Banda Aceh pada 15 Agustus mendatang.

Salah seorang pemuka Agama, "Aby Mujahidin" Mengajak Seluruh Ulama, tokoh masyarakat serta Rakyat Aceh agar dapat meramaikan acara Zikir akbar dan do'a bersama untuk menolak bala juga sebagai wadah untuk menentukan sikap Aceh terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang selama ini dinilai merugikan dan dizalimi oleh pusat.



Lebih lanjut aby menyatakan dalam ceramahnya, kenyataan pahit yang masih dirasakan masyarakat hingga saat ini. "Sudah Delapan bulan pasca musibah banjir yang melanda Nanggro Aceh Darussalam, namun masih banyak warga yang menjadi korban masih mengalami kesulitan pangan dan belum mendapatkan bantuan yang layak serta infrastruktur seperti jembatan yang putus (Belum di perbaiki).

"Kita berharap aparat keamanan seharusnya menjaga keamanan warganya yang lebih di utamakan. Aman dalam mencari nafkah, aman dalam menuntut ilmu dan aman dalam bepergian. Ujarnya.


Sementara itu "Yusril Izamahendra" menyatakan, Masyarakat Aceh lebih mendengarkan dan patuh pada Ulamanya. Selama Ulama-ulama Aceh tidak memberontak, selama itulah Aceh masih tedap dalam NKRI, tapi bila Ulama Aceh sudah memberontak (menentang kebijakan pusat) habislah kita (NKRI), ungkapnya dalam sebuah pidato yang di unggah berbagai media.



Merespon hal tersebut, Aktivis LSM Bungong Lam Jaro "Muhammad.Ali C,JB" mengatakan, acara musyawarah para Ulama seluruh Aceh tersebut beritikat baik untuk kepentingan Bangsa Aceh kedepan. Ia beserta seluruh elemen LSM BLJ menyatakan akan mendukung sepenuhnya apapun keputusan yang nanti diambil oleh para Ulama Aceh nantinya.

Menurutnya, Ulama Aceh selama ini diam, Aceh seperti kehilangan tongkat untuk pegangan, karna bagi bangsa Aceh Ulama adalah panutan dan tempat bergantung harapan, tegasnya.

Ia juga menyoroti sejarah panjang perjalanan Aceh Selama lebih dari Delapan dekade dirasa terus-menerus diperlakukan tidak adil oleh pemerintah pusat. Nota kesepahaman (MoU Helsinky) yang seharusnya menjadi payung keadilan bagi Aceh, kini hanya tinggal catatan sejarah yang tidak memiliki nilai pelaksanaan yang nyata.


Kini saatnya Bangsa Aceh Bangkit bersama Ulama untuk menentukan sikap Aceh kedepan' Ungkap Humas LSM BLJ tersebut.

(Team-Red)

0 Komentar